[LAMAN UTAMA] * [BM UPSR] * [BM PMR] * [BM SPM] * [BM STPM] * [BM UMUM]* [SAJAK]* [CERPEN]* [HUBUNGI KAMI]

Jumaat, April 10, 2009

Tazkirah Jumaat siri 6: Adab-adab Bersama Al-quran



Al Quran sebagai Kitab Suci, Wahyu Ilahi, mempunyai adab-adab tersendiri bagi orang-orang yang membacanya. Adab-adab itu sudah diatur dengan sangat baik, untuk kehormatan dan keagungan Al Quran; tiap-tiap orang harus berpedoman kepadanya dan mengerjakannya.

Imam Al Ghazali di dalam kitabnya Ihya Ulumuddin telah memperinci dengan sejelas-jelasnya bagaimana hendaknya adab-adab membaca Al Qur'an menjadi adab yang mengenal batin, dan adab yang mengenal lahir. Adab yang mengenal batin itu, diperinci lagi menjadi erti memahami asal kalimat, cara hati membesarkan kalimat Allah, menghadirkan hati dikala membaca sampai ke tingkat memperluas, memperhalus perasaan dan membersihkan jiwa. Dengan demikian, kandungan Al Quran yang dibaca dengan perantaraan lidah, dapat bersemi dalam jiwa dan meresap ke dalam hati sanubarinya. Kesemuanya ini adalah adab yang berhubungan dengan batin, yaitu dengan hati dan jiwa. Sebagai contoh, Imam Al Gazhali menjelaskan, bagaimana cara hati membesarkan kalimat Allah, yaitu bagi pembaca Al Qur'an ketika ia memulainya, maka terlebih dahulu ia harus menghadirkan dalam hatinya, betapa kebesaran Allah yang mempunyai kalimat-kalimat itu. Dia harus yakin dalam hatinya, bahwa yang dibacanya itu bukanlah kalam manusia, tetapi adalah kalam Allah Azza wa Jalla. Membesarkan kalam Allah itu, bukan saja dalam membacanya, tetapi juga dalam menjaga tulisan-tulisan Al Quran itu sendiri. Sebagaimana yang diriwayatkan, 'Ikrimah bin Abi Jahl, sangat gusar hatinya bila melihat lembaran-lembaran yang bertuliskan Al Quran berserak-serak seolah-olah tersia-sia, lalu ia memungutnya selembar demi selembar, sambil berkata:"Ini adalah kalam Tuhanku! Ini adalah kalam Tuhanku, membesarkan kalam Allah berarti membesarkan Allah."

Adapun mengenai adab lahir dalam membaca Al Quran, selain didapati di dalam kitab Ihya Ulumuddin, juga banyak terdapat di dalam kitab-kitab lainnya. Misalnya dalam kitab Al Itqan oleh Al Imam Jalaludin As Suyuthu, tantang adab membaca Al Quran itu diperincinya sampai menjadi beberapa bagian.

Diantara adab-adab membaca Al Quran, yang terpenting ialah:

1. Disunatkan membaca Al Quran sesudah berwudhu, dalam keadaan bersih, sebab yang dibaca adalah wahyu Allah.

2. Mengambil Al Quran hendaknya dengan tangan kanan; sebaiknya memegangnya dengan kedua belah tangan.

3. Disunatkan membaca Al Quran di tempat yang bersih, seperti di rumah, di surau, di mushalla dan di tempat-tempat lain yang dianggap bersih. Tapi yang paling utama ialah di mesjid.

4. Disunatkan membaca Al Quran menghadap ke Qiblat, membacanya dengan khusyu' dan tenang; sebaiknya dengan berpakaian yang pantas.

5. Ketika membaca Al Quran, mulut hendaknya bersih, tidak berisi makanan, sebaiknya sebelum membaca Al Quran mulut dan gigi dibersihkan terlebih dahulu.

6. Sebelum membaca Al Quran disunatkan membaca ta'awwudz, yang berbunyi: a'udzubillahi minasy syaithanirrajim. Sesudah itu barulah dibaca Bismillahirrahmanir rahim. Maksudnya, diminta lebih dahulu perlindungan Allah, supaya terjauh pengaruh tipu daya syaitan, sehingga hati dan fikiran tetap tenang di waktu membaca Al quran, dijauhi dari gangguan. Biasa juga orang yang sebelum atau sesudah membaca ta'awwudz itu, berdoa dengan maksud memohon kepada Alah supaya hatinya menjadi terang. Doa itu berbunyi sebagai berikut.

"Ya Allah bukakanlah kiranya kepada kami hikmat-Mu, dan taburkanlah kepada kami rahmat dan khazanah-Mu, ya Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."

7. Disunatkan membaca Al Quran dengan tartil, yaitu dengan bacaan yang pelan-pelan dan tenang, sesuai dengan firman Allah dalam surat (73) Al Muzammil ayat 4:

"....Dan bacalah Al Quran itu dengan tartil".

Membaca dengan tartil itu lebih banyak memberi bekas dan mempengaruhi jiwa, serta serta lebihmendatangkan ketenangan batin dan rasa hormat kepada Al Quran.

Telah berkata Ibnu Abbas r.a.:" Aku lebih suka membaca surat Al Baqarah dan Ali Imran dengan tartil, daripada kubaca seluruh Al Quran dengan cara terburu-buru dan cepat-cepat."

8. Bagi orang yang sudah mengerti arti dan maksud ayat-ayat Al Quran, disunatkan membacanya dengan penuh perhatian dan pemikiran tentang ayat-ayat yang dibacanya itu dan maksudnya. Cara pembacaan seperti inilah yang dikehendaki, iaitu lidahnya bergerak membaca, hatinya turut memperhatikan dan memikirkan arti dan maksud yang terkandung dalam ayat-ayat yang dibacanya. Dengan demikian, ia akan sampai kepada hakikat yang sebenarnya, iaitu membaca Al Quran serta mendalami isi yang terkandung di dalamnya. Hal itu akan mendorongnya untuk mengamalkan isi Al Quran itu. Firman Allah dalam surat (4) An Nisaa ayat 82 berbunyi sebagai berikut:

"Apakah mereka tidak memperhatikan (isi) Al Quran?..."

Bila membaca Al Quran yang selalu disertai perhatian dan pemikiran erti dan maksudnya, maka dapat ditentukan ketentuan-ketentuan terhadap ayat-ayat yang dibacanya. Seperti bila bacaan sampai kepada ayat tasbih, maka dibacanya tasbih dan tahmid; Bila sampai pada ayat Doa dan Istighfar, lalu berdoa dan minta ampun; bila sampai pada ayat azab, lalu meminta perlindungan kepada Allah; bila sampai kepada ayat rahmat, lalu meminta dan memohon rahmat dan begitu seterusnya. Caranya, boleh diucapkan dengan lisan atau cukup dalam hati saja. Diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Daud, dari Ibnu Abbas yang maksudnya sebagai berikut: "Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. apabila membaca: "sabbihissma rabbikal a'la beliau lalu membaca subhanarobbiyal a'la . Diriwayatkan pula oleh Abu Daud, dan Wa-il binHijr yang maksudnya sebagai berikut:" Aku dengan Rasulullah membaca surat Al Fatihah , maka Rasulullah sesudah membaca walad dholliin lalu membaca aamin . Demikian juga disunatkan sujud, bila membaca ayat-ayat sajadah, dan sujud itu dinamakan sujud tilawah.

Ayat-ayat sajadah itu terdapat pada 15 tempat yaitu:

1. dalam surat Al-A'raaf ayat 206

2. dalam surat Ar-ra'd ayat 15

3. dalam surat An-Nahl ayat 50

4. dalam surat Bani Israil ayat 109

5. dalam surat Maryam ayat 58

6. dalam surat Al-Haji ayat 18 dan ayat 77

7. dalam surat Al Furqaan ayat 60

8. dalam surat Annaml ayat 26

9. dalam surat As-Sajdah ayat 15

10. dalam surat As-Shad ayat 24

11. dalam surat Haamim ayat 38

12. dalam surat An-Najm ayat 62

13. dalam surat Al-Insyiqaq ayat 21, dan

14. dalam surat Al-'Alaq ayat 19

9. Dalam membaca Al Quran itu, hendaknya benar-benar diresapkan arti dan maksudnya, lebih-lebih apabila smapai pada ayat-ayat yang menggambarkan nasib orang-orang yang berdosa, dan bagaimana hebatnya siksaan yang disediakan bagi mereka. Sehubungan dengan itu, menurut riwayat, para sahabat banyak yang mencucurkan air matanya di kala membaca dan mendengar ayat-ayat suci Al Quran yang menggambarkan betapa nasib yang akan diderita oleh orang-orang yang berdosa.

10. Disunatkan membaca Al Quran dengan suara yang bagus lagi merdu, sebab suara yang bagus dan merdu itu menambah keindahan islubnya Al Quran. Rasulullah s.a.w. telah bersabda:

"Kamu hiasilah Al Quran itu dengan suaramu yang merdu"

Diriwayatkan, bahwa pada suatu malam Rasulullah s.a.w. menunggu-nunggu istrinya, Siti 'Aisyah r.a. yang kebetulan agak terlambat datangnya. Setelah dia datang, Rasulullah bertanya kepadanya:" Bagaimanakah keadaanmu?" Aisyah menjawab :"Aku terlambat datang, karena mendengarkan bacaan Al Quran seseorang yang sangat bagus lagi merdu suaranya. Belum pernah aku mendengar suara sebagus itu." Maka Rasulullah terus berdiri dan pergi mendengarkan bacaan Al Quran yang dikatakan Aisyah itu. Rasulullah kembali dan mengatakan kepada Aisyah:" Orang itu adalah Salim, budak sahaya Abi Huzaifah. Puji-pujian bagi Allah yang telah menjadikan orang yang suaranya merdu seperti Salim itu sebagai ummatku."

Oleh sebab itu, melagukan Al Quran dengan suara yang bagus, adalah disunatkan, asalkan tidak melanggar ketentuan-ketentuan dan tata cara membaca sebagaimana yang telah ditetapkan dalam ilmu qiraat dan tajwid, seperti menjaga madnya, harakatnya (barisnya) idghamnya dan lain-lainnya. Di dalam kitab zawaidur raudhah, diterangkan bahwa melagukan Al Quran dengan cara bermain-main serta melanggar ketentuan-ketentuan seperti tersebut di atas itu, haramlah hukumnya; orang yang membacanya dianggap fasiq, juga orang yang mendengarkannya turut berdosa.

11. Sedapat-dapatnya membaca Al Quran janganlah diputuskan hanya karena hendak berbicara dengan orang lain. Hendaknya pembacaan diteruskan sampai ke batas yang telah ditentukan, barulah disudahi. Juga dilarang tertawa-tawa, bermain-main dan lain-lain yang semacam itu, ketika sedang membaca Al Quran. Sebab pekerjaan yang seperti itu tidak layak dilakukan sewaktu membaca Kitab Suci dan berarti tidak menghormati kesuciannya.

Itulah diantara adab-adab yang terpenting yang harus dijaga dan diperhatikan, sehingga dengan demikian kesucian Al Quran dapat terpelihara menurut arti yang sebenarnya.


sumber: http://mujahidharaki.blogspot.com/2008_02_10_archive.html

1 ulasan:

Auzaie S.M berkata...

Wahyu tuhan untuk dimuliakan,
seringkali terlupakan,
syukran ustaz kerana mengingatkan..

Tazkirah Ramadhan

Punca amalan pada Ramadan jadi sia-sia; ABU Hurairah meriwayatkan bahawa Rasulullah bersabda yang bermaksud: “Ramai orang yang berpuasa tetapi tidak memperoleh apa-apa daripada puasanya melainkan lapar. Ramai yang mendirikan sembahyang malam tetapi tidak memperoleh apapun daripadanya melainkan kepenatan berdiri malam.” Berkaitan hadis ini, ulama memberikan tiga tafsiran berlainan iaitu pertama, ia ditujukan kepada mereka yang berpuasa pada siangnya tetapi apabila berbuka (iftar) dengan memakan makanan haram. Segala ganjaran diterima hasil daripada berpuasa pada siangnya musnah sama sekali akibat daripada dosa besar kerana memakan makanan haram. Kedua, hadis itu ditujukan kepada mereka yang berpuasa dengan baik tetapi ketika menjalani ibadat puasa, sibuk dengan mengumpat dan memfitnah orang lain. Ketiga, orang yang dimaksudkan itu ialah ketika berpuasa tidak menjauhkan diri daripada maksiat dan dosa. Begitu juga dengan mereka yang berdiri malam secara sukarela sepanjang malam tetapi oleh kerana mengumpat atau melakukan dosa yang lain, akibatnya amalan mulia itu tidak mendapat pahala.

" Empat zikir sepanjang Ramadan NABI Muhammad SAW sentiasa berdoa sepanjang Ramadan. Malah, dalam riwayat lain, dinyatakan bentuk doa yang diamalkan Rasulullah SAW. Dalam hadis, ada dinyatakan bahawa Rasulullah bersabda sebaik tiba Ramadan. Sabda Baginda yang bermaksud: “Empat jenis zikir yang tidak patut ditinggalkan oleh setiap Muslim sepanjang Ramadan. Pertama, mengucapkan istighfar (memohon ampun); kedua, memperbanyakkan ucapan syahadah; ketiga, berdoa meminta syurga dan keempat, memohon keredaan Allah.” (Hadis riwayat Al-Baihaqi). Bentuk doa yang dibacakan Rasulullah SAW juga berbeza pada awal, pertengahan dan akhir Ramadan. Diriwayatkan, pada awal Ramadan, Rasulullah memohon rahmat daripada Allah. Pada pertengahan Ramadan pula, Baginda memohon keampunan. Pada akhir Ramadan, Rasulullah meminta dijauhkan daripada seksaan neraka

"Lima ketinggian Ramadan; IBNU Abbas meriwayatkan bahawa Nabi Muhammad bersabda yang bermaksud: “Apabila datang hari pertama Ramadan, maka bertiuplah angin ‘Al-Mutsiiratu’ dari Arsy dan menggerakkan daun pohon syurga hingga terdengar sayup-sayup suara merdu yang tidak pernah terdengar oleh sesiapa pun. ”Bidadari melihat dan mendengar ke arah sayup-sayup suara merdu itu sambil berkata: “Ya Allah, jadikan kami pada bulan ini (Ramadan) sebagai isteri hamba-Mu. Maka Allah mengahwinkan hamba-Nya yang berpuasa pada bulan Ramadan dengan bidadari cantik.” Ini adalah salah satu cebisan kebaikan dan ketinggian Ramadan yang sedang dilalui umat Islam. Kita harus bersyukur kerana dapat berada dalam Ramadan al-Mubarak, iaitu bulan awalnya rahmat, pertengahannya pengampunan dan akhirnya merdeka (terlepas) daripada api neraka. Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim daripada Abu Hurairah, Rasulullah bersabda yang bermaksud: “Barang siapa menahan tidur serta beramal pada Ramadan dengan beriman bersungguh-sungguh akan kelebihannya serta ikhlas semata-mata kerana Allah, nescaya diampuni segala dosanya yang lalu.” Ramadan mempunyai lima keistimewaan yang tidak ada pada bulan lain, iaitu puasa selama sebulan, Lailatul Qadar, zakat fitrah, Nuzul Quran dan amal kebajikan. Salman Al Farisi meriwayatkan: “Dalam sebuah hadis panjang, Rasulullah berkhutbah di hadapan kami pada akhir bulan Syaaban. Baginda berpesan yang bermaksud: “Wahai umat manusia, sesungguhnya kami naungi bulan yang mulia lagi diberkati kerana Ramadan itu adalah bulan kesabaran dan sabar itu balasannya adalah syurga. Ramadan juga adalah bulan yang ditambah Allah rezeki orang mukmin. “Barang siapa yang memberi makan kepada orang yang berbuka puasa pada bulan ini, adalah baginya pahala seperti memerdekakan seorang hamba dan dosa-dosanya pula diampunkan.”